Fokusperistiwanews.com – LOMBOK TIMUR — Desa Sakra Selatan, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, menunjukkan perkembangan dalam penanganan stunting. Capaian tersebut mengantarkan desa berpenduduk sekitar 8.435 jiwa itu menjadi perwakilan Lombok Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Penilaian Desa Berkinerja Baik Tahun 2026.
Penilaian difokuskan pada upaya konvergensi pencegahan serta percepatan penurunan stunting. Setelah melalui pemeriksaan administrasi dan dokumen, tahapan evaluasi dilanjutkan dengan wawancara yang berlangsung secara daring pada Selasa (15/9/2026).
Dalam sesi tersebut, Pemerintah Desa Sakra Selatan dipimpin Kepala Desa Lalu Burhan bersama jajaran. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur turut memberikan dukungan dengan menghadirkan Wakil Bupati H. Moh. Edwin Hadiwijaya selaku Ketua Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah unsur pendukung juga ikut terlibat, mulai dari Bappeda, DP3AKB, pendamping keluarga, PLKB hingga PKK. Kolaborasi lintas sektor itu menjadi bagian dari strategi penanganan stunting di tingkat daerah hingga desa.
Edwin menilai capaian Sakra Selatan patut mendapat apresiasi. Menurutnya, penurunan kasus tidak terlepas dari kerja bersama antara pemerintah desa, kader, keluarga dan masyarakat.
Ia juga mendorong Sakra Selatan untuk dikembangkan sebagai Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Penguatan statistik desa dianggap penting karena kualitas data menjadi dasar untuk menyusun perencanaan pembangunan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Dari pemerintah pusat, Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan (PSBLDP) Kemendes PDT Andrey Iksan Lubis turut memberikan apresiasi. Ia melihat tingginya keterlibatan warga sebagai salah satu kekuatan utama Sakra Selatan dalam menjalankan berbagai program.
Andrey berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi referensi bagi desa-desa lain di Lombok Timur. Menurutnya, program yang dirancang pemerintah akan lebih efektif ketika masyarakat ikut mengambil peran dalam pelaksanaannya.
Untuk mendukung penurunan stunting, Sakra Selatan mengembangkan sejumlah program inovatif. Di antaranya Gerakan Tolak Merarik Kodek (Getak Mako) serta Percepatan Naikkan Gizi Keluargaku (Pangku).
Upaya tersebut diperluas melalui program Genting, yakni gerakan orang tua asuh bagi anak stunting. Pendampingan dilakukan dengan melibatkan organisasi perangkat daerah dan badan usaha milik daerah.
Pemenuhan kebutuhan gizi juga diperkuat melalui kemitraan Desa Sakra Selatan dengan SPPG Lombok Timur Sakra 3.
Tak hanya mengandalkan program, pemerintah desa memberikan dukungan melalui anggaran. Sekitar 40 persen APBDes Sakra Selatan atau lebih dari Rp460 juta diarahkan untuk mendukung berbagai kegiatan percepatan penurunan stunting.
Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk mendukung insentif bagi Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan kader Posyandu. Mereka berperan dalam melakukan pemantauan, pendataan serta pendampingan keluarga yang menjadi sasaran intervensi.
Hasil dari berbagai upaya itu tercermin dalam tren kasus stunting yang terus menurun. Pada 2024, jumlah kasus di Sakra Selatan mencapai 63 orang dan wilayah tersebut sempat masuk kategori zona hitam.
Setahun kemudian, angka itu turun menjadi 42 kasus. Sementara hingga triwulan III 2026, jumlah kasus kembali menyusut menjadi 29 orang.
Penurunan tersebut menjadi salah satu modal penting Sakra Selatan dalam menghadapi penilaian tingkat nasional. Capaian itu sekaligus memperlihatkan bahwa intervensi yang dilakukan secara terpadu mulai memberikan hasil.
Kini, Sakra Selatan tidak hanya membawa nama desa dan Kabupaten Lombok Timur, tetapi juga menjadi salah satu wajah NTB dalam menunjukkan praktik baik penanganan stunting. Tantangan berikutnya adalah menjaga capaian tersebut agar tren penurunan terus berlanjut serta memperkuat program yang sudah berjalan.(red)














Komentar